Tempat Pulang
Jadi Balon
Aku ingin jadi balon
pada kanak-kanakmu
yang kau nyanyikan
dengan gembira
ketika di luar hujan
menerkam apa saja
Kuansing, 2019
Tempat Pulang
Untuk Perempuan Kecil
;Anakku
Menuju Manuhing
Antara retak aspal dan batu-batu pecahBerkali-kali
Berkali-kali aku ingin jadi lumutWahai Laksamana
Ini rumah lautPada Kawanku
Aroma
gerimis pada kawanku
lekat dalam ketiak waktu
ketika ia terus ke barat
menelusuri usianya sendiri
Dengan mata
senja kelak
akan kuhitung jejak-jejaknya
yang ia sisakan di bibir pantai
surut laut segera semoga
sebelum ia benar-benar sampai
Puisi-puisi
telah kubacakan
mantra-mantra pemanggil Tuhan
kuhafal dengan benar bunyinya
jua dalam darahmu
mengalirlah menggema-gema
bahasakan dalam dada
Padang;
22/4/2015
Pada Hujan Sore yang Melintasi Kotaku
Katamu pada
hujan itu
kau titipkan tubuhmu
Maka
Kubiarkan hujan menimpa tubuhku
rambutku dan bahuku
kubiarkan hujan dan tubuhmu
menjadi tubuhku
Padang;
15/5/2015
Kepada Sahabatku Randie SK
Jika kau ingin tahu kabarku
Aku masih berkelahi dengan harapan
dan omong kosong kehidupan
Ada yang
senatiasa pekat
ialah kelupaan dan ketiadaan
Tuhan pernah meniupnya di jalanku
Maka
kalau kau bersua senja
katakan aku juga mencarinya
setelah lilin kutiup dan usia kian menciut
Kelak
jika nasib baik
akan kuceritakan padamu tentang rindu
yang kuhirup tiup serupa candu
Padang;
5/5/2015
Mengeja
Aku mengeja
detik
mencari detak di ujung titik
waktu di pundakku tak mau berhenti
aku terus mencari
Aku berlari
ke jantungmu
kutemui bisu di dadaku
aku sembunyi di dadamu
kutemui kota di jantungku
kotamu yang hidup dua puluh empat jam
gembel-gembel bertanam harapan
malaikat bertengger di bibir gelas
bir menguap penuh malas
Kita mabuk
pada hidup
matamu mataku yang redup
tubuhmu tubuhku yang gerak
jiwamu jiwaku yang lasak
di dalam kita kita tersesat
saling tuduh saling siasat
Nyanyikan
lagu nina lagi
tidurkan luka dengan mimpi
di kesiap udara malam
di sunyi yang mengeram
di kita yang berkali-kali karam
Aku mengeja
titik
di detak denting detik
ke kau juga
akhirnya aku menyerah
Pekanbaru;
24/5/2014
Senja di Sako
Ketika
langit orange
laut masih setenang matamu
dua ekor anjing berkejaran
mengantar hari ke waktu yang lain
Kuserap
segala curiga
terhadap usia dan angka-angka
kapal-kapal yang pergi
tak dapat kau tebak bagaimana akan kembali
Pula
pucuk-pucuk cemara
getar angin yang tiba-tiba tuba
dendang saluang tepuk rebana
apa lagi yang paling gamang dan gema?
Kau tahu
benar tempat kita pulang
selain jarak dan dekapan
ialah rindu
tahun-tahun serupa kuda pacu
Padang;
12/5/2015
Bulan di Mata Kekasihku
Kekasihku
memelihara bulan di matanya
cahayanya memantul di samudera
digulung-gulung gelombang
menusuk tubuh karang
Pada temaram
kekasihku menjuntaikan rindu
burung malam bersiul merdu
gema ke pucuk hatiku
getar mengintip di balik pintu
Suatu pagi
dadaku berlubang-lubang
aku menengok ke dalam
kutemukan kotamu yang benderang
Malam-malam
kemudian
mata kekasihku hitam lebam
tubuhnya menjelma hujan
Padang;
12/4/2015
Kapalmu Yang Laut
Kuhitung
jejak tersisa
ombak mengikisnya
aku ingin marah
tapi pada siapa?
Kapalmu yang
laut
doaku yang darat
ketika temaram senja
rindu berdansa
Sementara
senyap sengit
buram melukis langit
di ujung malam
jatuh cinta tertikam
Padang;
4/5/2015
Kopi Pahit
Jika kau
hidu kopi kemarin
ingatlah angin pernah tajam
setajam tuai padi ibu
di tanah kelahiran
yang pernah ia tanam jantung
tumbuh menembus langit
menembus harapan demi harapan
Garis nasib
memang rahasia benar
meski kau siasat waktu
mengicuh mimpi dan hatimu sendiri
tapi luka abadi
ngilu menyerang tiap sendi
bukit dan laut yang kau jelajahi
Berbalik
adalah jalan terbaik
kenangan ialah tempat kita pulang
ziarahi kekalahan demi kekalahan
dan bola-bola waktu yang pecah
segera kau ketahui maknanya
Padang; 2/5/2015
Keranda
Di dalam
cinta aku menemukan kita
di dalam doa pula
dan tubuhku yang kian kaku
tunduk pada ketentuan waktu
sementara pada angin dan dingin
kau masih senantiasa berandai ingin
Telah kusaksikan kita mengenal malam
warna warna kehilangan
juga senyap demi senyap
mendenting pekik waktu
yang berterbangan dari masa laluku
hinggap dalam masa lalumu
Telah pula
kita kasihkan nyeri liuk hidup
musim dan tahun
hikayat dan renung
cinta demi cinta
menelaga ceruk mata
kenangan mematuk dada
Tentang sepi
yang akan menjadi milikmu
atau senyap yang paling hantu
ia lahir dari usiaku
tumbuh di usiamu
telah kukemas ketika kau masih pulas
sembari pelan-pelan kulepas nafas
Aku telah
berangkat ketika subuh warna pekat
dan kau masih terlelap
kutinggalkan keranda di depan pintu
tempat kelak kau menyimpan rindu
Di dalam
cinta aku menemukan kita
di dalam keranda kau akan menziarahinya
Kuansing;
25/11/2014
Lagu Kematian
Nasib telah
membawaku
lagu-lagu telah dimainkan
nama telah dituliskan
doa dibuang dalam tangisan
Dalam
matinya tubuhku
dalam matinya hidupmu
mematuk detik menyentak
detik-detik terus bergerak
Aku
senantiasa bersyukur
tentang degup dan cinta
tentang panggung dan rasa
hidup yang setipis garis senja
Waktu telah
tiba
dalam suaramu luka
kematianlah sesungguhnya
paling milik kita
Kuansing;
28/11/2014
Malam Melankolis
Musik jazz
mengalun
kenangan demi kenangan mengalir
hanyutkan kita
dalam prasangka-prasangka
Jari-jarimu
mengepal
hatiku gemetar
siapa dapat menebak cinta
tumbuh dan gugur di dada kita
Demikian
pula usia
bergulir umpama tahun
tahun-tahun yang lasak
tahun-tahun yang jarak
Yang kekal ialah air mata
dari langit sadarmu
dari lembah mimpiku
yang saling kangen dicumbu
Udara
menjelma warna-warna
kau tiup tergesa
kuhirup penuh rahasia
menjelma doa-doa
Sembari kita
saksikan malam paling malam
juga sunyi milikmu
dan yang milikku berdansa
kita kecup duka cita
Kuansing;
18/3/2015
Lolongan Anjing Dari Lembah Dadaku
Lolongan
anjing dari lembah dadaku
yang gema pada sepi
hadapi gesit detik berlari
dan mimpi-mimpi
puisi-puisi
tumbuh sekehendaknya sendiri
Padang;
30/3/2015
Kau Yang Aku
Kau yang aku
kita yang rindu
yang keluh dan tergugu
tunggu kepulangan yang jauh
Padang;
31/3/2015
Menjadi Ikan
Aku jadi
ikan
kau nelayan
tangkap aku
jaring nasibmu
ujung nafasku
Kita menjadi
cemas
di dada istrimu
yang awas menunggu
laut dan gelombang
kapalmu karam
Kita
sama-sama jadi ikan
berenang-renang
bebas di lautan
sebelum nelayan asing
datang menebar jaring
Nelayan
asing kapalnya ikut karam
nelayan asing juga jadi ikan
berenang-renang di lautan
kita dan nelayan asing saling makan
sebelum datang pangilan Tuhan
Padang;
12/2/2015
Sepi Yang Sepi
Kita pun
menjadi sepi
saling memeluk diri sendiri
tersadai di jarum kompas
yang tak bergerak
Oh kelahiran
kepergian dan kematian
yang juga kepulangan
sepi kita sepi yang sepi
sepi yang tekun
memeluk diri sendiri
Matamu
Matamu menjadi bukit
lengkap dengan pohon-pohonnya
juga bunga rumput yang menjalar di tiap sisi cerita
aku berjalan di tengahnya
terus ke barat
terus ke harap
barangkali di sana
bisa kutemui kematianku sendiri
Daun-daun berguguran
burung-burung berkicauan
tahu benar soal cuaca
sebentar lagi hujan tiba
matamu menjelma sungai
mengalir ke dalam dada
menyurukkan ribuan duka
di sana aku tenggelam
melepas nafas pelan-pelan
Inikah kematian itu
tanyaku pada langit
pada matahari yang licik
tidak kata matamu
kau hanya sedang menunggu
sebentar lagi
kesepian itu menjemputmu
30/3/2014
Harga Puisi
Rokok yang kau hirup
bir yang kau teguk
istrimu yang ngamuk
31/2/2014
Yang Denting
Yang denting adalah usia
mematuk di ubun-ubun
mendaun dan berguguran
Kita berjalan di bawahnya
merentangkan tangan
menerima tiap ketentuan
dengan pintu dada paling ngembang
Ia berjatuhan di bahu kita
serupa hujan
dingin dan ngilu
meninggalkan bekas di pijak
Kelak
orang-orang akan membacanya
di atas panggung
peran kita digantikan
06/4/2014
Api
Api yang melahap hutan
asapnya ke mana-mana
ke jantungmu
ke paru-paruku
di kematian kita bertemu
dibakar-Nya hingga debu
15/3/2014
Hujan Di Kota
Hujan yang turun membasahi kota
menjebak orang-orang di dalamnya
yang gegas menuntut dunia
yang jenuh dan sandiwara
sementara di atas sana
bintang-bintang entah di mana
kita kehilangan peta
kehilangan mata dan cinta
Kita mesti segera pulang katamu
ke langit yang biru kataku
20/3/2014
Pada Padi Dan Kerbau Di Sawah
Pada padi-padi di sawah
pada kerbau dan lenguhnya
lihat kota mendekat
matanya merah
nyala membakar apa saja
Kita mesti bergegas
membangun tembok yang kekar
06/4/2014
Di
Kotamu Aku Segera Tiba
Ujung malam
titik-titik hujan
seribu keriangan kanak-kanak
dalam tidurmu
tetas dalam rinduku
Keberangkatan ini
sepi menjelma pohon
kejar-kejaran
saling buru dan tikam
Dari jendela kereta
aku melihat kita
mampus dibenamkan cinta
Kuansing; 31/10/2014
Pada
Jarak
Ombak dan rindu
menumbuk di laut jantung
malam tiba gigil sendiri
melepas kapal-kapal pergi
Kita ribuan kilo jarak
yang tak kunjung terlipat
Asap dan botol
cinta menari-nari
membangun benteng yang tinggi
aroma engkau membumbung
Sebentar lagi mati aku
dihantam senyap yang tajam
Padang; 28/10/2014
Kuhirup
Pagi
Kuhirup juga bau rambutmu
udara menjelma berton-ton kenangan
yang sudah sangat lama kita relakan
tajam menabrak dadaku
Lalu detik
tak henti-henti berdecit
serupa roda kereta yang lalu
hantarkan kita ke jauh
juga usiaku
dihisapnya satu-satu
Kuansing; 05/10/2014
Kita
Akan Jadi Anjing
Kita akan jadi anjing
menyalak-nyalak
pada tembok dan langit
juga pada diri sendiri
mengutuk sunyi
yang bertahun-tahun kita jilati
Kuansing; 18/9/2014
Melihat
Matamu
Melihat matamu
seperti aku melihat langit dan laut
juga batas hidup
yang jumpa di jantung kita
Bernyanyilah
tentang bandar-bandar tempo hari
yang kita singgahi
di mana duka berlari-lari
saling mengejar diri sendiri
Melihat matamu
seperti aku melihat detak dan detik
tik tak detak sepatu
taktik gerimis dan rindu
Bersiasatlah pada waktu
lalu peluk aku
barangkali esok kematian terkutuk itu
merangkul kita lebih dulu
Kuansing; 20/9/2014
Oleh-oleh
Dari negeri tak bertuan
kubawakan kau langit bulan
bintang dan kunang-kunang
buat nanti kita pajang
Orang-orang
jangan pikirkan
orang-orang punya
malamnya masing-masing.
Ini malam milik kita
anggur dan darah
sama panas sama merah
serta cubit-cubitan di pangkal paha
Nanti jika pagi kembali
kau boleh ke matahari
esok malam cerita ini
kita sambung lagi
Kuansing; 8/3/2014
Mencintaimu
Adalah aku yang selalu
merasa kehilangan
dan selalu mencarimu
dengan penuh rindu
08/08/2012
sama seperti bapak
yang pulang lebih cepat
tapi tidak untuk cinta
cinta akan terus hidup
dari dada bapak ke dada kita
seperti udara
ia senantiasa berhembus
menerobos pori-pori
menyusup ke tulang dan hati
10/4/2014
Di
Pinggir Laut
kau hanya akan melihat biru langit
gulung ombak ditepuk angin genit
juga kenangan yang garang
yang kau pelihara di dada seseorang
:yang
terus tumbuh mekar
serupa bunga-bunga liar
lalu sepi menjadi milikmu sendiri
14/4/2014
Pada
Engkau
pada
engkau yang serupa burung-burung
yang terbang dari musim ke musim
ceritakan padaku tentang lampu-lampu
dan senja di kota Yang menghisap
orang-orang ke dalamnya
seolah nasib baik dan umur panjang ada di sana
pada
engkau yang suatu hari naik kereta
meninggalkan kerbau dan petak-petak sawah
ceritakan padaku tentang cinta yang selalu muda
yang debarnya debur ombak di malam purnama
juga airmata yang jatuh memukul-mukul dada
pada
engkau yang tak pandai membilang usia
yang lupa mengingat sejarah
aku adalah ibu
rumah bagi segala tunggu
rindu sekujur waktu kekal tergugu
22/3/2014
Di
Kampung Kami
sungai
adalah rumah bagi sejarah
serupa waktu ia mengalir begitu saja
kami berlompatan ke dalamnya
berenang dan bercanda
kerbau dan ikan pula
kami sama-sama
burung-burung
nukik minum
pulang lalu ke dahan-dahan
kami di antaranya memanen buah
ketika senja pulang ke rumah
nyanyi-nyanyi mekarkan tawa
di surau kami sekolah
ilmu agama dan ilmu apa saja
esok
ketika pagi tiba
kami ke ladang bantu ayah
di kotamu juga?
14/3/2014
Pada
Ning
Ning
rinduku layangan
kau pegang benang
ulur tarik nadiku
udara rusuh menyentuh
sebentar lagi aku terbunuh
mati tersedu
aku
tulis nama
kidungkan lara
"di
sini, di dada kiri
pernah dengan peluh dan darah
seseorang belajar mencinta".
maka
aku jadi burung
terbang menusuk jantung
kau kenanglah
tak akan seorangpun kau temui
seperti aku mencintai.
27/3/2014
Kapalmu
Pergi
kapalmu
pergi
menembus langit dan biru hari
jatuh ke dalam hati
bunyi
sepatu di pelabuhan ini
serupa lenguh waktu yang berlari
tergesa menginjak hari
juga usia di jantung kita
kirimlah
berita
satu dua cerita
aku pecinta
rindu kental dan airmata
merajam senja
dalam syair pujangga
lalu
doa
berterbangan serupa burung malam
gigih dan kedinginan
lekaslah pulang
28/3/2014
Mak
Pulang
Mak
pulang
Pak
Mak pulang
ia bawa balon yang besar
warna warni warnanya
serupa warna duka
berlepasan ke angkasa
juga airmata
menyuruk ke dalam dada
itu
duka!
matanya tak nyala
Mak lepas usia
di negeri orang
terpancung kepalanya
Mak
pulang
Pak
Mak pulang
di
selangkangannya negara
di kakinya syurga
di dadanya cinta
di nisannya aku berdoa
Tuhan
Kamu masih di sana?
10/3/2014
Di Masjid Agung Kuansing
tiang
dan menara menjulang
seperti menopang langit yang betumpuk
kubah dan toa
dan nama-nama Engkau di sana
Sungguh megah menusia mencipta
seolah-olah seluruh doa akan sampai begitu saja
di
pintu aku berdiri
tinggi melebihi empat kaki
maha seni dan kaligrafi
terukir menjerat hati
puja pada Engkau yang memberi rezeki
terimalah persembahan hamba-hambaMu ini
angin
sejuk mengusap jiwa
dingin dan senyap suasana
lepas dari pesona aku bertanya
orang-orang di mana?
beduk Ashar pergi begitu saja
Reski
Kuantan; 31/4/2014
Mata
Pisau
ini mata pisau
menyayat di dada
kadang merobek perut
sering melukai kepala
kau menyebutnya cinta
14/4/2014
Tidurlah
Nina
tidurlah nina
tak akan kau jumpai apa pun
di langit yang gelap itu
langit sudah lama kosong
sejak bintang-bintang
ditelan gemerlap kota
bersama ayah
12/6/2014
Puisi
Untuk Nur
ini puisi
seperti janjiku
kukirim lewat malam
selepas hujan
manari-nari di tengah jalan
memaksa orang-orang menepi
dan saling berbisik
pada sepi
seperti kita
yang juga cuma
saling memeluk
diri sendiri
14/6/2014
Peluk
Aku
lebih erat
lebih dekap
lebih jerat
lebih sigap
seolah ini pertama kali
kau memeluk kekasih
24/3/2014
Malam
Untukmu
aku ingin punya malamku sendiri untukmu
tanpa
dering handphone
dan malaikat yang mengganggu
cuma
ada
kau
aku
lenguh
peluh
nafas terburu
asmara:
membakar kita jadi abu
16/5/2014
Dalam Lemari
aku
mencarimu
ke mana-mana
kucari kamu
ternyata
kamu di situ
di lipatan masalalu
dalam lemari kosong itu
kamu
masih mengingatku?
seperti aku mengingatmu?
09/5/2014
Akhir Pekan
Senja yang
pecah di punggungmu
pecah pula di dadaku
segumpal cerita yang larut
diusung angin yang laut
Ada yang tak
letih melempar jaring
menangkap lonceng hari esok
seumpama kita ikan-ikan
berpeluh-peluh di laut garam
Lalu pada
yang tak pernah sempat
kau lenyap ditelan akhir pekan
sementara kembali kukemas buku-buku
mengenang perjumpaan bulan lalu
Padang;
4/5/2015
Senandung Rumput Ilalang
Pintu langit
mengatup
tertangkap nasib tertungkup
haluan di lonceng malam
tidurkah engkau?
Burung-burung pembawa kabar
lesap dari mimpi
lenyap di balik hari
Sedang angin
musim sendiri
gigil ngilu ditiup sunyi
sendi-sendi menua
dini tertinggal di pangkal tanah
ke engkau sampaikah?
Senandungku yang beringsut
lenyap di telan kabut
Bermusim-musim
telah
kutunggu-tunggu engkau
ketiadaan jua menangkapku
Padang;
20/5/2015
Siapa Tahu Esok Bukan Milik Kita
Tidurlah
siapa tahu esok bukan milik kita
biar kutenun lagu kesukaanmu
sembari menangkap penat yang melompat-lompat
di pundak waktu
Tidurlah
siapa tahu esok kita jadi burung pipit
maka terbanglah tinggi-tinggi
menembus bibir kabut pagi
serupa mimpimu selama ini
Tidurlah
siapa yang tahu tentang garis tangan
barangkali pula esok
kita jumpa di ketiadaan
maka biar kupeluk kau sepanjang malam
Padang;
27/5/2015
Di Suatu Cafe
Ia yang
lesap pada hidu kopi
boleh aku mengenal engkau?
Serupa hujan mengenal akar pohon
yang resap di musim kemarau
Pekanbaru;
2014
Singingi
Air menumbuk
tebing
berpusing mengitari bukit
padang luas yang hijau
sehijau kanak-kanak engkau
hiruplah
Muaralembu;
2014