Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Puisi: Tempat Pulang

Tempat Pulang

Aku pulangkan diriku
tubuh yang aku pinjamkan pada perempuan lain
ke pangkuanmu
sebab 
kau tempat kembali
bagi semua kepergian

Kuansing, 2019



Jadi Balon

Aku ingin jadi balon
pada kanak-kanakmu
yang kau nyanyikan
dengan gembira
ketika di luar hujan
menerkam apa saja

Kuansing, 2019



Jadi Kapal

Kita jadi kapal
berlayar dari bandar ke bandar
yang berkali-kali gagal
menemukan debar

Kuansing, 2019



Pohon Itu

Pohon itu tumbuh tinggi
tapi tak menjangkau engkau
bertahun-tahun sudah
ia menunggu 
tebasmu

Kuansing, 2019

Read More »

Puisi: Untuk Perempuan Kecil

Untuk Perempuan Kecil
;Anakku


1/
Semalam
sebenarnya bulan tidak lebih terang atau lebih muram ketimbang kemarin
bulatnya pucat serupa wajah orang sakit
hanya ombak-ombak kecil di telaga
membuatnya terlihat sedikit lebih cantik
dan angin tipis yang tajam
aku berdua saja dengan sepi
mengeping-ngeping dingin

Mengapa rasa sedih itu ada?

Hidup hanya garis lurus dari dua titik
kita yang terombang ambing di sana

Betapa aku selalu merindukanmu


2/
Karena kamu perempuan
akan aku belikan boneka merah jambu berbulu tebal
dengan pita ungu
piano atau biola boleh juga
mungkin kamu akan menyukainya
suatu hari nanti
ketika aku di luar jangkauanmu
kamu akan teringat-ingat
mungkin berdialog dengan benda-benda itu
seolah padaku

Sebenarnya manusia tidak pernah tahu
kapan mesti pergi
kelak kamu akan mengerti
ketika jatuh cinta



3/
Kamu 
tercipta dari sebongkah niat 
darahmu sungai pengharapan
dagingmu
tulangmu 
gumpalan cinta
dan tiap tiupan nafasmu adalah rinduku

Senantiasa kubayangkan gerak-gerik jari-jari kecilmu
aroma rambutmu yang tipis
dan bening bola matamu terus-terusan menghisapku
seolah dunia hanya punya sisi baik, seolah


4/
Ketika malam
sebenarnya
di sini
aku hanya memalingkan mata dari dunia
di sana
bermimpi tentang aku kah kamu?


5/
Kamu adalah
awal dari semua hari
akhir dari segala tujuan


Batulicin, 2019
Read More »

Puisi: Menuju Manuhing, dll

Menuju Manuhing

Antara retak aspal dan batu-batu pecah
angin malam terasa jahat
di balik jendela taksi yang macet
aku sembunyi
dibayangi tangis gadis kecil di rumah dan
istri yang tabah

Pun kusiasati rencana kepulangan
yang entah

Oi
ini perjalanan kian jauh
membelah kesunyian dan debu
aku diguncang rindu

Palangkaraya - Tumbang Talaken, 2018




Kita Yang Mengharapkan Hujan

Kau menjadi sepat
liar dan lapar
di parit-parit
perkebunan sawit

Aku menjadi debu
di jari angin
mengepal dingin
dan demam

:hujan itu, sekedar lalu

Tumbang Talaken, 2018



Pagi Di Manuhing 

Bulan masih dingin di langit Manuhing, dik
ketika angin malas berpergian
dan para pemimpi yang kehabisan anggur
mulai tertidur
aku baru saja menemukan diri
sebelum tangan-tangan nasib kembali menenggelamkannya

Suara air di Tumbang Talaken, dik
mengeping hening
barisan buruh kebun dan pabrik
yang dibangunkan lonceng gereja
pada mereka; aku melihat rumah
penggalan-penggalan cerita
degup tubuhmu
rasanya baru kemarin

Tumbang Talaken; 2018



Ia Menjengkal Tanahnya

Ia menjengkal tanahnya
rimbanya
kanak-kanaknya
:yang kini entah siapa punya

Tumbang Talaken; 2018
Read More »

Puisi: Aku Sepi Itu, dll

Berkali-kali

Berkali-kali aku ingin jadi lumut
yang tumbuh di bekas pijakan kakimu
tempat kau berlama-lama
menanggung rindu dan cinta

Lalu menyaksikan apa yang kau saksikan
langit dan hujan
muram malam atau senyap yang tajam
mungkin

Berkali-kali aku ingin merasakan
penderitaan yang kau rasakan
kemudian menguburnya dalam-dalam
untuk diriku sendiri

Kuansing, 2016



Melepas Biduk

Biduk itu pun hilir
menempuh ceritanya sendiri
pada senja kusam
setelah berkali-kali ditikam masa silam.

Ia pernah membawaku
menyeberangi sungaimu
yang resah dan tergugu
selepas badai ketika itu

Kuansing; 2016



Aku Sepi Itu

Aku sepi itu
berjalan sendiri
memanggil-manggilmu
berharap langit dan nasib baik
pertemukan kita
dan rindu yang mendegup dadaku
segera tumpah ke dadamu

Padang, 2016



Selepas Hujan

Hujan itu menjadi aku
menitik di pohonmu
daun-daunmu
bunga-bungamu

Menitik dalam hening
begitu bening

Dan ketika seluruhku telah tumpah
tiada
kau pun bertanya-tanya
berapa waktu yang kau sisakan
untuk mengenangku

Kuansing; 2016



Pergi Lelakiku

Pergi lelakiku
meski jalan-jalan itu
simpang-simpang itu
dan batas-batas itu
hanya akan mengarahkanmu pada kembali

Pergi lelakiku
bukan semata-mata agar
kau kenal arah angin
kau hafal rasa dingin
kau penuhi seluruh ingin

Pergi lelakiku
sebab tepian dan jamban ini
tak akan memberikanmu apa-apa lagi

Kau yang datang pada riuh ini
serupa perahu kosong tanpa kemudi
mesti mengenal badai
melebihi kau kenal diri sendiri

Berpeganglah pada harapan
sebab bila tidak
ketika itu kau telah mati

Maka berjalanlah
dayung dayamu sendiri
seberangi kemungkinan demi kemungkinan
carilah kesepakatan
sebab kesepakatan adalah kebenaran

Kuansing; 2015



Jalan Sunyi Pencari Kayu

Belukar di jalan itu
makin tinggi dan berduri
kau beri aku parang
tapi tak tahu cara berperang
kutebas jua diriku sendiri

Aku berdarah tapi tak merah
barangkali luka hilang gairah
dan sunyi rimba itu
mengenalkanku pada rindu
juga pada ngilu

Angin yang menggugurkan usia daun
puisi-puisi hilang renung
jalan-jalan itu
derak patah ranting waktu
sunyi pencari kayu

Hutan-hutan bernyanyilah
nyanyikan kegelisahanmu
setubuhi kegelisahanku
biar kau hidup
aku hirup

Kita melangkah di jalan yang sama
merasai debar yang sama
hidup yang sama
nasib yang sama
tapi sunyi itu sungguh beda

Padang; 2105



Hujan Yang Sama

Ini hujan yang sama
dengan aroma yang sama
larilah ke luar rumah
biarkan ia pukul bahu kita
seperti ia memukul
kelopak bunga-bunga sejarah
dan ingatan di kepala

Rentangkan tangamu lebar-lebar
agar ia lebih kenal debar dada kita
yang di dalamnya
senantiasa menampung airmata
dan doa-doa

Ini hujan yang sama
dengan gigil yang sama
bukalah bajumu dan celana
menarilah
bersyukurlah
selepas ini kita daki pelangi
kau boleh pilih warnamu sendiri
bukankah hujan memang selalu begini?
lalu mengapa kau sedih?

;2014



Malam Bujang
:Nie Dori

Oi kawan,
ini tuak kudatangkan dari jauh
lebih jauh ketimbang masa muda yang tak habis-habis
bikin kangen dan tangis
ciciplah sedikit
biar kedukaan itu ke dadaku

Jika dadaku tak cukup kuat bagi dukamu
maka teriakan pada hening Kuantan
atau tebing dingin ini malam

Lagi malam panjang
mata kailmu dan ikan-ikan
nasib baik siapa tahu
kita panen belido seukuran perahu
biar kukabarkan pada Munthe dan Kuntet
atau gadis yang kau kangeni itu
mereka yang selalu saja terlambat

Atau biar kukabarkan pada apa saja
yang tak sekali-kali bicara
dan paham tentang cinta
sebab padanya
kau bebas bercerita
sebab murung dan duka
tak membawamu ke mana-mana

Kuansing; 2016


*Puisi-puisi  di atas pernah dipublikasikan di Riau Pos
Read More »

Puisi: Wahai Laksamana, Mantra Tuah, dll

Wahai Laksamana

Ini rumah laut
tempat rindu pasang surut
kepulanganmu tahun-tahun berlari
tahun-tahun yang demam sendiri

Di luar sana angin berduyun
ke puncak bukit dan gunung
di dalam sini sebab
tak ada lagi layar yang dapat  ditangkap

Doa-doaku yang garam
luka-luka mengeram
kau menjelma sepanjang ingatan
berhamburan dari rahim masa silam

Oh kandungku hanyut
di ujung teluk sejarah tertungkup
debur ombak sudut mata
hatiku bibir pantai yang lara

Akulah ibu dari segala ibu
yang kau cucut tampuk susunya
yang berdarah-darah
memberimu bahasa

Ceritakan pada sultanmu
tentang rumah lautku
tentang tanah tumpah
yang ngungsi ke tembok-tembok Malaka

Sampaikan pada karib kerabat
pada rongga dada Hang Jebat
pada detak jantung dan waktu
pada hunus ujung kerismu

Aku lah Dang Merdu
wahai laksamana
wahai rindang rindu
wahai dukaku duka

Wahai nama-nama
wahai cucur darah
wahai lara lirih
akulah kasih paling kasih
yang paling laut
yang paling larut
paling pintu dan tunggu
musim ke musim mengendap rindu

Katakan pada tiap tetes darah
pada tiap jengkal tanah
pada dentum meriam orang eropa
pada kematian di ubun kepala

Sumpahkan pada orang darat
tentang gemuruh runtuh adat
tikam muslihat mahkota
ketiadaan yang tiada

Oh putraku paling putra
dagingku yang pusara
serupa tumbuk gelombang pada karang
cemasku riwayat tak terbilang

Kuansing, 2015



Mantra Tuah

Hallo angin terbirit
yang turun dari puncak bukit
malang mantra orang dalam
tumbang adat rebahlah engkau
apa kabar?

Tanah leluhur dan pohon-pohon
dahan dan daun-daun
yang memberi hirup
teteskan denyut hidup
pada garis darah engkau

Pipit-pipit
padi-padi gabah
ilalang mengicuh mata
bersiul-siul pada selaksa
menari-nari tarian jenaka

Kilau tuai engkau
berpangkal pada tanah
berpucuk pada langit
menyayat dalam doa
panen musim tuba

Oh segala yang tumbuh
segala yang ruh
segala yang tubuh
segala yang tipu
kelak serupa engkau pula runtuh

Hallo angin sonsang
hikayat nenek moyang
derak belantara tumbang
ditiupnya pada engkau
apa kabar?

Raung tumbung traktor orang kota
tumbung-tumbung serakah
musabab sanak merumah punah
segala satwa dan saudara
menunggu kematian tiba

Oh batang sungai
batang nasib yang sansai
pada nadi engkau
pada degup engkau
mengalir  mantra yang tuah

Tuah yang patah
tuah yang sembah
sembah yang jiwa
jiwa yang sembah
SembahYang Esa

Kuansing, 2015



Anjing dalam Diri

Yang pahit di darahku
yang busuk di dagingku
aku tak sendiri
siapa dapat maknai sepi?

Ia anjing dalam diri
terus  menyalak dan menangis
menggigit dan mencakar
merobek laparku
merobek dahagaku
setubuhi amarahku

Begitu dekat
demikian erat
tanpa sekat
dalam gelap
dalam diri

Ia beri aku sakit
beri aku pahit
beri aku pelukan
beri aku pelukan

Oh sudah bertahun
melipat kurun
yang dingin dan asing.

Kuusir ia tapi tak pergi
kubunuh tak mati-mati
ia anjing dalam diri
paling tahu rasa sedih
paling pandai bersembunyi

Kuansing, 2016



Duri dan Daging

Aku tulis tubuhmu
duri dan daging
darah bening
sembari kau eja namaku
berulang-ulang
suaramu masuki tenggorokanku

Kita membusuk
meringkuk
saling tangkap
saling dekap
saling sekap

Oh kau milikku
tubuhmu tubuhku
duri dan daging
menyatu

Oh diri
oh duri
oh daging
dendam-dendam
diam-diam menjadi duri
menjadi daging
darah bening
mengering

Aku tulis tubuhmu
gairah bertahun
dihisap kurun
lukamu lukaku
berpeluh-peluh
tumpah dalam lenguh
kita satu

Satu tubuh
dalam darah
dalam gairah
dalam marah
dalam cinta
tanpa dusta
tanpa kata

Karena kata tak mampu sampaikan luka
tapi cinta menyatukan apa saja

Kuansing, 2016



Kuriau

Kuriau
kudengar ia memanggil kau
dari sudut-sudut kampung
dari bukit-bukit berkabung
dari mata kanak-kanak
yang tak kenal bahasa kandung

Kuriau
kudengar ia mengigau
dari anak-anak sungai
dari petak-petak sawit
dari dalam perutku
yang lapar pembangunan

Kuriau
ia meraung-raung risau
ia ingin pulang
pada layar dan lancang
pada laut dan gelombang
pada anak-anaknya yang hilang

Kuriau
ia mati sendiri
terkubur dalam sepi

Tahukah kau?
mati dalam sepi adalah kematian paling keji

Sementara kau
di mall-mall
di kakilima
di sekolah-sekolah
di tempat ibadah
senantiasa menyulam keranda
seolah mengamini kematiannya
tanpa doa

ia tak ingin mati
tak ingin kau kenang
ia ingin kau timang
ia ingin cinta

ia tak ingin keranda
tak ingin batu nisan
ia ingin sejarah
ia ingin kau baca

Kuriau
di kalbumu
di kalbuku
di sepanjang jalan-jalan kota
menjelma tugu-tugu penuh dusta

Kuriau
sekedar kesenian dan omong kosong belaka
sekedar lagu-lagu pengiring dansa
ca ca ca
celaka
kita pestakan kematiannya

Kuriau
ia jelma negeri sebelah
di gemerlap malam kota
di warung kopi hingga toko celana

Kuriau
ia mati dalam sepi
terjajah di negerinya sendiri

Sementara kau?

Pekanbaru; 2014
Read More »

Puisi: Kopi Pahit, Pada Kawanku, dll

Pada Kawanku

Aroma gerimis pada kawanku
lekat dalam ketiak waktu
ketika ia terus ke barat
menelusuri usianya sendiri

Dengan mata senja kelak
akan kuhitung jejak-jejaknya
yang ia sisakan di bibir pantai
surut laut segera semoga
sebelum ia benar-benar sampai

Puisi-puisi telah kubacakan
mantra-mantra pemanggil Tuhan
kuhafal dengan benar bunyinya
jua dalam darahmu
mengalirlah menggema-gema
bahasakan dalam dada

Padang; 22/4/2015

 

Pada Hujan Sore yang Melintasi Kotaku

Katamu pada hujan itu
kau titipkan tubuhmu

Maka
Kubiarkan hujan menimpa tubuhku
rambutku dan bahuku
kubiarkan hujan dan tubuhmu
menjadi tubuhku

Padang; 15/5/2015

 

Kepada Sahabatku Randie SK

Jika kau ingin tahu kabarku
Aku masih berkelahi dengan harapan
dan omong kosong kehidupan

Ada yang senatiasa pekat
ialah kelupaan dan ketiadaan
Tuhan pernah meniupnya di jalanku

Maka
kalau kau bersua senja
katakan aku juga mencarinya
setelah lilin kutiup dan usia kian menciut

Kelak
jika nasib baik
akan kuceritakan padamu tentang rindu
yang kuhirup tiup serupa candu

Padang; 5/5/2015

 

Mengeja

Aku mengeja detik
mencari detak di ujung titik
waktu di pundakku tak mau berhenti
aku terus mencari

Aku berlari ke jantungmu
kutemui bisu di dadaku
aku sembunyi di dadamu
kutemui kota di jantungku
kotamu yang hidup dua puluh empat jam
gembel-gembel bertanam harapan
malaikat bertengger di bibir gelas
bir menguap penuh malas

Kita mabuk pada hidup
matamu mataku yang redup
tubuhmu tubuhku yang gerak
jiwamu jiwaku yang lasak
di dalam kita kita tersesat
saling tuduh saling siasat

Nyanyikan lagu nina lagi
tidurkan luka dengan mimpi
di kesiap udara malam
di sunyi yang mengeram
di kita yang berkali-kali karam

Aku mengeja titik
di detak denting detik
ke kau juga
akhirnya aku menyerah

Pekanbaru; 24/5/2014

 

Senja di Sako

Ketika langit orange
laut masih setenang matamu
dua ekor anjing berkejaran
mengantar hari ke waktu yang lain

Kuserap segala curiga
terhadap usia dan angka-angka
kapal-kapal yang pergi
tak dapat kau tebak bagaimana akan kembali

Pula pucuk-pucuk cemara
getar angin yang tiba-tiba tuba
dendang saluang tepuk rebana
apa lagi yang paling gamang dan gema?

Kau tahu benar tempat kita pulang
selain jarak dan dekapan
ialah rindu
tahun-tahun serupa kuda pacu

Padang; 12/5/2015

 

Bulan di Mata Kekasihku

Kekasihku memelihara bulan di matanya
cahayanya memantul di samudera
digulung-gulung gelombang
menusuk tubuh karang

Pada temaram kekasihku menjuntaikan rindu
burung malam bersiul merdu
gema ke pucuk hatiku
getar mengintip di balik pintu

Suatu pagi dadaku berlubang-lubang
aku menengok ke dalam
kutemukan kotamu yang benderang

Malam-malam kemudian
mata kekasihku hitam lebam
tubuhnya menjelma hujan

Padang; 12/4/2015

 

Kapalmu Yang Laut

Kuhitung jejak tersisa
ombak mengikisnya
aku ingin marah
tapi pada siapa?

Kapalmu yang laut
doaku yang darat
ketika temaram senja
rindu berdansa

Sementara senyap sengit
buram melukis langit
di ujung malam
jatuh cinta tertikam

Padang; 4/5/2015

 

Kopi Pahit

Jika kau hidu kopi kemarin
ingatlah angin pernah tajam
setajam tuai padi ibu
di tanah kelahiran
yang pernah ia tanam jantung
tumbuh menembus langit
menembus harapan demi harapan

Garis nasib memang rahasia benar
meski kau siasat waktu
mengicuh mimpi dan hatimu sendiri
tapi luka abadi
ngilu menyerang tiap sendi
bukit dan laut yang kau jelajahi

Berbalik adalah jalan terbaik
kenangan ialah tempat kita pulang
ziarahi kekalahan demi kekalahan
dan bola-bola waktu yang pecah
segera kau ketahui maknanya

Padang; 2/5/2015

 

Read More »

Puisi: Keranda, Lagu Kematian

Keranda

Di dalam cinta aku menemukan kita
di dalam doa pula
dan tubuhku yang kian kaku
tunduk pada ketentuan waktu
sementara pada angin dan dingin
kau masih senantiasa berandai ingin

Telah  kusaksikan kita mengenal malam
warna warna kehilangan
juga senyap demi senyap
mendenting pekik waktu
yang berterbangan dari masa laluku
hinggap dalam masa lalumu

Telah pula kita kasihkan nyeri liuk hidup
musim dan tahun
hikayat dan renung
cinta demi cinta
menelaga ceruk mata
kenangan mematuk dada

Tentang sepi yang akan menjadi milikmu
atau senyap yang paling hantu
ia lahir dari usiaku
tumbuh di usiamu
telah kukemas ketika kau masih pulas
sembari pelan-pelan kulepas nafas

Aku telah berangkat ketika subuh warna pekat
dan kau masih terlelap
kutinggalkan keranda di depan pintu
tempat kelak kau menyimpan rindu

Di dalam cinta aku menemukan kita
di dalam keranda kau akan menziarahinya

Kuansing; 25/11/2014

 

Lagu Kematian

Nasib telah membawaku
lagu-lagu telah dimainkan
nama telah dituliskan
doa dibuang dalam tangisan

Dalam matinya tubuhku
dalam matinya hidupmu
mematuk detik menyentak
detik-detik terus bergerak

Aku senantiasa bersyukur
tentang degup dan cinta
tentang panggung dan rasa
hidup yang setipis garis senja

Waktu telah tiba
dalam suaramu luka
kematianlah sesungguhnya
paling milik kita

Kuansing; 28/11/2014

Read More »

Puisi: Selepas Bukit Betabuh, Jadi Hujan, dll

Selepas Bukit Betabuh

Kita tiba di muasal
mula perkara rindu dan sejarah tumbuh
apakah yang hidup di dadamu?
ada gemuruh di jantungku
berhitunglah
satu dua dan berilah nama
pada tiap jengkal usia
juga detik yang menjerat urat leher kita
sebelum kita
benar-benar tiba di rumah

12/07/2014



Sepanjang Kilometer

Pohon-pohon sawit
telanjang bukit
aroma luka
doa-doa
sepanjang kepulangan
kita gagal memaknai cinta
yang bertahun-tahun silam
tertinggal entah di rahim siapa

12/07/2014



Hujan di Luar

Pernahkah kau bayangkan
ia air mata seseorang
yang rindu dan demam
menunggu kekasihnya pulang

12/07/2014



Lelap dan Percayalah

Malamlah yang paling ikhlas
mendengar keluh kesah
juga detak langkah
serupa dadaku
yang senantiasa sedia
menerima lelahmu
ketika arah mengicuh
ketika resah serupa sejuta peluru
bertubi meletup di kepala
juga sakit ingatan yang tak mau kalah

Lelap dan percayalah
sejauh apapun kau berjalan
sejauh itu pula
aku mengasihi serta mendoakan

12/07/2014



Jadi Hujan

Sekali saja
aku ingin jadi hujan
lalu jatuh di rambutmu
di bahumu
menjadi bulir-bulir yang siap kau tangkap
seperti usiaku yang selalu siaga tuk kau dekap

Berlari-larilah
seperti kau perempuan kecil yang penuh keriangan
di bawah titik-titikku yang meniada dan menjadi doa

Kau tahu?
melihat kau bersijingkat tertawa
seolah lengkap sudah aku mengbenal bahagia

19/07/2014



Kotak

Apakah kotakmu sudah penuh?
hari masih akan terus tumbuh
ini
pakailah kotakku
kita masih bisa
menyimpan banyak kenangan di dalamnya

25/07/2014
Read More »

Puisi: Malam Melankolis, dll

Malam Melankolis

Musik jazz mengalun
kenangan demi kenangan mengalir
hanyutkan kita
dalam prasangka-prasangka

Jari-jarimu mengepal
hatiku gemetar
siapa dapat menebak cinta
tumbuh dan gugur di dada kita

Demikian pula usia
bergulir umpama tahun
tahun-tahun yang lasak
tahun-tahun yang jarak

Yang  kekal ialah air mata
dari langit sadarmu
dari lembah mimpiku
yang saling kangen dicumbu

Udara menjelma warna-warna
kau tiup tergesa
kuhirup penuh rahasia
menjelma doa-doa

Sembari kita saksikan malam paling malam
juga sunyi milikmu
dan yang milikku berdansa
kita kecup duka cita

Kuansing; 18/3/2015

 

Lolongan Anjing Dari Lembah Dadaku

Lolongan anjing dari lembah dadaku
yang gema pada sepi
hadapi gesit detik berlari
dan mimpi-mimpi
puisi-puisi
tumbuh sekehendaknya sendiri

Padang; 30/3/2015

 

Kau Yang Aku

Kau yang aku
kita yang rindu
yang keluh dan tergugu
tunggu kepulangan yang jauh

Padang; 31/3/2015



Menjadi Ikan

Aku jadi ikan
kau nelayan
tangkap aku
jaring nasibmu
ujung nafasku

Kita menjadi cemas
di dada istrimu
yang awas menunggu
laut dan gelombang
kapalmu karam

Kita sama-sama jadi ikan
berenang-renang
bebas di lautan
sebelum nelayan asing
datang menebar jaring

Nelayan asing kapalnya ikut karam
nelayan asing juga jadi ikan
berenang-renang di lautan
kita dan nelayan asing saling makan
sebelum datang pangilan Tuhan

Padang; 12/2/2015

 

Sepi Yang Sepi

Kita pun menjadi sepi
saling memeluk diri sendiri
tersadai di jarum kompas
yang tak bergerak

Oh kelahiran
kepergian dan kematian
yang juga kepulangan
sepi kita sepi yang sepi
sepi yang tekun
memeluk diri sendiri

Padang; 17/1/2015

Read More »

Puisi: Matamu, Hujan Di Kota, dll

Matamu

Matamu menjadi bukit
lengkap dengan pohon-pohonnya
juga bunga rumput yang menjalar di tiap sisi cerita
aku berjalan di tengahnya
terus ke barat
terus ke harap
barangkali di sana
bisa kutemui kematianku sendiri

Daun-daun berguguran
burung-burung berkicauan
tahu benar soal cuaca
sebentar lagi hujan tiba
matamu menjelma sungai
mengalir ke dalam dada
menyurukkan ribuan duka
di sana aku tenggelam
melepas nafas pelan-pelan

Inikah kematian itu
tanyaku pada langit
pada matahari yang licik
tidak kata matamu
kau hanya sedang menunggu
sebentar lagi
kesepian itu menjemputmu

30/3/2014

 

Harga Puisi

Rokok yang kau hirup
bir yang kau teguk
istrimu yang ngamuk

31/2/2014

 

Yang Denting

Yang denting adalah usia
mematuk di ubun-ubun
mendaun dan berguguran

Kita berjalan di bawahnya
merentangkan tangan
menerima tiap ketentuan
dengan pintu dada paling ngembang

Ia berjatuhan di bahu kita
serupa hujan
dingin dan ngilu
meninggalkan bekas di pijak

Kelak
orang-orang akan membacanya
di atas panggung
peran kita digantikan

06/4/2014

 

Api

Api yang melahap hutan
asapnya ke mana-mana
ke jantungmu
ke paru-paruku
di kematian kita bertemu
dibakar-Nya hingga debu

15/3/2014

 

Hujan Di Kota

Hujan yang turun membasahi kota
menjebak orang-orang di dalamnya
yang gegas menuntut dunia
yang jenuh dan sandiwara
sementara di atas sana
bintang-bintang entah di mana
kita kehilangan peta
kehilangan mata dan cinta

Kita mesti segera pulang katamu
ke langit yang biru kataku

20/3/2014


Pada Padi Dan Kerbau Di Sawah

Pada padi-padi di sawah
pada kerbau dan lenguhnya
lihat kota mendekat
matanya merah
nyala membakar apa saja

Kita mesti bergegas
membangun tembok yang kekar

06/4/2014

Read More »

Puisi: Mencintaimu, Di Kotamu Aku Segera Tiba, dll

Di Kotamu Aku Segera Tiba

Ujung malam
titik-titik hujan
seribu keriangan kanak-kanak
dalam tidurmu
tetas dalam rinduku

Keberangkatan ini
sepi menjelma pohon
kejar-kejaran
saling buru dan tikam

Dari jendela kereta
aku melihat kita
mampus dibenamkan cinta

Kuansing; 31/10/2014

 

Pada Jarak

Ombak dan rindu
menumbuk di laut jantung
malam tiba gigil sendiri
melepas kapal-kapal pergi

Kita ribuan kilo jarak
yang tak kunjung terlipat

Asap dan botol
cinta menari-nari
membangun benteng yang tinggi
aroma engkau membumbung

Sebentar lagi mati aku
dihantam senyap yang tajam

Padang; 28/10/2014

 

Kuhirup Pagi

Kuhirup juga bau rambutmu
udara menjelma berton-ton kenangan
yang sudah sangat lama kita relakan
tajam menabrak dadaku

Lalu detik
tak henti-henti berdecit
serupa roda kereta yang lalu
hantarkan kita ke jauh
juga usiaku
dihisapnya satu-satu

Kuansing; 05/10/2014

 

Kita Akan Jadi Anjing

Kita akan jadi anjing
menyalak-nyalak
pada tembok dan langit
juga pada diri sendiri
mengutuk sunyi
yang bertahun-tahun kita jilati

Kuansing; 18/9/2014

 

Melihat Matamu

Melihat matamu
seperti aku melihat langit dan laut
juga batas hidup
yang jumpa di jantung kita

Bernyanyilah
tentang bandar-bandar tempo hari
yang kita singgahi
di mana duka berlari-lari
saling mengejar diri sendiri

Melihat matamu
seperti aku melihat detak dan detik
tik tak detak sepatu
taktik gerimis dan rindu

Bersiasatlah pada waktu
lalu peluk aku
barangkali esok kematian terkutuk itu
merangkul kita lebih dulu

Kuansing; 20/9/2014

 

Oleh-oleh

Dari negeri tak bertuan
kubawakan kau langit bulan
bintang dan kunang-kunang
buat nanti kita pajang

Orang-orang
jangan pikirkan
orang-orang punya
malamnya masing-masing.

Ini malam milik kita
anggur dan darah
sama panas sama merah
serta cubit-cubitan di pangkal paha

Nanti jika pagi kembali
kau boleh ke matahari
esok malam cerita ini
kita sambung lagi

Kuansing; 8/3/2014

 

Mencintaimu

Adalah aku yang selalu
merasa kehilangan
dan selalu mencarimu
dengan penuh rindu

08/08/2012

Read More »

Puisi: Yang Gugur, Pada Engkau, dll

Yang Gugur
:Hairunisa 

yang gugur adalah daun
juga usia kita yang mengalir ke ubun-ubun
maka seka airmata itu
sebab setiap yang tumbuh
akan tumbang jua

sama seperti bapak
yang pulang lebih cepat
tapi tidak untuk cinta

cinta akan terus hidup
dari dada bapak ke dada kita
seperti udara
ia senantiasa berhembus
menerobos pori-pori
menyusup ke tulang dan hati

10/4/2014

 

Di Pinggir Laut

kau hanya akan melihat biru langit
gulung ombak ditepuk angin genit
juga kenangan yang garang
yang kau pelihara di dada seseorang

:yang terus tumbuh mekar
 serupa bunga-bunga liar

lalu sepi menjadi milikmu sendiri

14/4/2014

 

Pada Engkau

pada engkau yang serupa burung-burung
yang terbang dari musim ke musim
ceritakan padaku tentang lampu-lampu
dan senja di kota Yang menghisap
orang-orang ke dalamnya
seolah nasib baik dan umur panjang ada di sana

pada engkau yang suatu hari naik kereta
meninggalkan kerbau dan petak-petak sawah
ceritakan padaku tentang cinta yang selalu muda
yang debarnya debur ombak di malam purnama
juga airmata yang jatuh memukul-mukul dada

pada engkau yang tak pandai membilang usia
yang lupa mengingat sejarah
aku adalah ibu
rumah bagi segala tunggu
rindu sekujur waktu kekal tergugu

22/3/2014


Di Kampung Kami

sungai adalah rumah bagi sejarah
serupa waktu ia mengalir begitu saja
kami berlompatan ke dalamnya
berenang dan bercanda
kerbau dan ikan pula
kami sama-sama

burung-burung nukik minum
pulang lalu ke dahan-dahan
kami di antaranya memanen buah
ketika senja pulang ke rumah
nyanyi-nyanyi mekarkan tawa
di surau kami sekolah
ilmu agama dan ilmu apa saja 

esok ketika pagi tiba
kami ke ladang bantu ayah
di kotamu juga?

14/3/2014



Pada Ning

Ning
rinduku layangan
kau pegang benang
ulur tarik nadiku
udara rusuh menyentuh
sebentar lagi aku terbunuh
mati tersedu

aku tulis nama
kidungkan lara

"di sini, di dada kiri
pernah dengan peluh dan darah
seseorang belajar mencinta"
.

maka aku jadi burung
terbang menusuk jantung
kau kenanglah
tak akan seorangpun kau temui
seperti aku mencintai.

27/3/2014


Kapalmu Pergi

kapalmu pergi
menembus langit dan biru hari
jatuh ke dalam hati

bunyi sepatu di pelabuhan ini
serupa lenguh waktu yang berlari
tergesa  menginjak hari
juga usia di jantung kita

kirimlah berita
satu dua cerita
aku pecinta
rindu kental dan airmata
merajam senja
dalam syair pujangga

lalu doa
berterbangan serupa burung malam
gigih dan kedinginan
lekaslah pulang

28/3/2014

 

Mak Pulang

Mak pulang
Pak
Mak pulang

ia bawa balon yang besar
warna warni warnanya
serupa warna duka
berlepasan ke angkasa
juga airmata
menyuruk ke dalam dada

itu duka!

matanya tak nyala
Mak lepas usia
di negeri orang
terpancung kepalanya

Mak pulang
Pak
Mak pulang

di selangkangannya negara
di kakinya syurga
di dadanya cinta
di nisannya aku berdoa
Tuhan
Kamu masih di sana?

10/3/2014

 

Di Masjid Agung Kuansing

tiang dan menara menjulang
seperti menopang langit yang betumpuk
kubah dan toa
dan nama-nama Engkau di sana

Sungguh megah menusia mencipta
seolah-olah seluruh doa akan sampai begitu saja

di pintu aku berdiri
tinggi melebihi empat kaki
maha seni dan kaligrafi
terukir menjerat hati

puja pada Engkau yang memberi rezeki
terimalah persembahan hamba-hambaMu ini

angin sejuk mengusap jiwa
dingin dan senyap suasana
lepas dari pesona aku bertanya
orang-orang di mana?
beduk Ashar pergi begitu saja

Reski Kuantan; 31/4/2014



Mata Pisau

ini mata pisau
menyayat di dada
kadang merobek perut
sering melukai kepala

kau menyebutnya cinta

14/4/2014

 

Tidurlah Nina

tidurlah nina
tak akan kau jumpai apa pun
di langit yang gelap itu
langit sudah lama kosong
sejak bintang-bintang
ditelan gemerlap kota
bersama ayah

12/6/2014

 

Puisi Untuk Nur

ini puisi
seperti janjiku
kukirim lewat malam
selepas hujan
manari-nari di tengah jalan
memaksa orang-orang menepi
dan saling berbisik
pada sepi

seperti kita
yang juga cuma
saling memeluk
diri sendiri

14/6/2014

 

Peluk Aku

lebih erat
lebih dekap
lebih jerat
lebih sigap

seolah ini pertama kali
kau memeluk kekasih

24/3/2014

 

Malam Untukmu

aku ingin punya malamku sendiri untukmu
tanpa dering handphone
dan malaikat yang mengganggu

cuma ada
kau
aku
lenguh
peluh
nafas terburu

asmara:
membakar kita jadi abu

16/5/2014

 

Dalam Lemari

aku mencarimu
ke mana-mana
kucari kamu

ternyata kamu di situ
di lipatan masalalu
dalam lemari kosong itu

kamu masih mengingatku?
seperti aku mengingatmu?

09/5/2014


Read More »

Puisi: Akhir Pekan, dll

Akhir Pekan

Senja yang pecah di punggungmu
pecah pula di dadaku
segumpal cerita yang larut
diusung angin yang laut

Ada yang tak letih melempar jaring
menangkap lonceng hari esok
seumpama kita ikan-ikan
berpeluh-peluh di laut garam

Lalu pada yang tak pernah sempat
kau lenyap ditelan akhir pekan
sementara kembali kukemas buku-buku
mengenang perjumpaan bulan lalu

Padang; 4/5/2015

 

Senandung Rumput Ilalang

Pintu langit mengatup
tertangkap nasib tertungkup
haluan di lonceng malam
tidurkah engkau?
Burung-burung pembawa kabar
lesap dari mimpi
lenyap di balik hari

Sedang angin musim sendiri
gigil ngilu ditiup sunyi
sendi-sendi menua
dini tertinggal di pangkal tanah
ke engkau sampaikah?
Senandungku yang beringsut
lenyap di telan kabut

Bermusim-musim telah
kutunggu-tunggu engkau
ketiadaan jua menangkapku

Padang; 20/5/2015

 

Siapa Tahu Esok Bukan Milik Kita

Tidurlah
siapa tahu esok bukan milik kita
biar kutenun lagu kesukaanmu
sembari menangkap penat yang melompat-lompat
di pundak waktu

Tidurlah
siapa tahu esok kita jadi burung pipit
maka terbanglah tinggi-tinggi
menembus bibir kabut pagi
serupa mimpimu selama ini

Tidurlah
siapa yang tahu tentang garis tangan
barangkali pula esok
kita jumpa di ketiadaan
maka biar kupeluk kau sepanjang malam

Padang; 27/5/2015

 

Di Suatu Cafe

Ia yang lesap pada hidu kopi
boleh aku mengenal engkau?
Serupa hujan mengenal akar pohon
yang resap di musim kemarau

Pekanbaru; 2014

 

Singingi

Air menumbuk tebing
berpusing mengitari bukit
padang luas yang hijau
sehijau kanak-kanak engkau
hiruplah

Muaralembu; 2014

 

Read More »

Cari

Arsip